Sabtu, 20 Oktober 2012

Pia Mini Kacang Hijau



Kemarin dikasih kacang hijau oleh saudara buanyak banget, bingung mau diapain. Dibikin bubur kebanyakan, akhirnya searching nyari resep pia basah. Pia adalah salah satu makanan kesukaanku dari jaman masih SMA dulu suka beli pia yang 500-an. Rasanya enak meski sekarang ukurannya makin lama makin kecil hehe..
Dari sekian banyak resep belum nemu yang cocok karena semua pakai margarin. Akhirnya resepnya di-mix terus margarin diganti minyak kelapa. Hasil pertama enak, terus besoknya coba lagi tapi ukurannya diperkecil ternyata lebih enak, Abinya Raihan juga suka. Ukurannya setengah kali dari ukuran resep akhirnya jadilah pia mini yang imut-imut dengan rasa yummy :)
Bahan Kulit:        250 gr Tepung terigu protein sedang
                         2 sendok makan gula pasir
                         125 ml air masak hangat
                         30 gr minyak kelapa
                         ½ sdt ragi instan
                          ½ sdt garam

Bahan isi:             125 gr Kacang hijau
                           75 gr gula pasir
                           ½ sdt garam
                           2 sdm minyak goreng
Cara membuat:
1.       Untuk isian: Rebus/kukus kacang hijau hingga empuk, lebih baik lagi jika kacang hijau direndam dulu selama 3 jam sebelum di kukus. Haluskan.
2.       Masak kacang hijau bersama minyak goreng dan gula pasir, tambahkan garam. Aduk-aduk hingga agak kering. Angkat sisihkan.
3.       Kulit: aduk semua bahan kecuali minyak kelapa dan garam. Uleni hingga rata masukkan minyak dan garam. Uleni hingga kalis dan elastis. Pengadukkan juga bisa menggunakan metode dibanting-banting.
4.       Diamkan 45 menit, usahakan di tempat yang hangat. Kempiskan adonan yang telah mengembang dengan meninjunya. Timbang masing-masing 15 gram.
5.       Panaskan oven dengan suhu 180 °C. Pipihkan adonan, beri isi lalu bentuk bulat pipih. Letakkan di loyang yang sudah dioles tipis minyak. 
6.       Oven kurang lebih 15 menit atau sampai permukaan bawah pia berwarna kecoklatan. Balik panggang lagi selama 10 menit sampai berwarna kecoklatan,

Untuk: 28 buah
Note: Karena menggunakan minyak kelapa, bukannya margarin jadi proses memanggang agak lama agar warna cokelat bisa muncul. Malah terkadang butuh waktu 20 menit untuk mendapatkan warna yang bagus (tapi jangan sampai gosong ya, cek tiap 5 menit). Tergantung dari oven masing-masing dan kelembapan adonan. Minyak kelapa juga membuat pia gampang basi mungkin paling lama bertahan tiga hari, karena itu cepat dihabiskan ya :)
Tapi tak usah khawatir kalau memang enak pasti akan cepat habis ^_^. Happy cooking!

Jumat, 19 Oktober 2012

Puding Roti Brownies


Resep ini terinspirasi dari puding roti tawar. Tapi ingin yang agak beda, makanya dipadukan dengan resep dasar brownies. Hasilnya brownies yummy bertekstur puding, padat tapi tidak keras. Margarin yang biasa dipakai diganti dengan minyak kelapa atau minyak goreng untuk menghindari lemak trans. Meski roti sendiri mengandung margarin tapi dalam jumlah yang relatif kecil.
Cara membuatnya mudah tak perlu menggunakan mixer. Tapi sayangnya nggak ada fotonya, keburu habis sebelum sempat di foto hehe... Selamat mencoba!

Bahan:      4 lembar roti tawar
                100 ml susu coklat manis
                2 butir telur
                75 gr gula pasir
                20 gr cokelat bubuk
                80 gr tepung terigu protein sedang
                30 ml minyak goreng
                ½ sdt vanili
Cara membuat:
1.       Suwir-suwir roti tawar, tambahkan susu cokelat sampai roti basah. Aduk-aduk, sisihkan.
2.       Panaskan oven hingga mencapai suhu 180 °C. Campur telur, gula, dan minyak goreng dalam baskom hingga gula larut. Tak perlu mixer, cukup dengan pengocok telur (whisk)
3.       Masukkan rendaman roti tawar, aduk-aduk hingga roti hancur.
4.       Masukkan tepung terigu dan cokelat bubuk, aduk hingga adonan licin.
5.       Tuang ke dalam loyang yang sudah dioles minyak goreng dan dialasi kertas roti.
6.       Panggang dalam oven suhu 180 °C ± 35 menit. Angkat dinginkan, potong-potong.

Note: Bagi yang tidak suka terlalu manis atau sedang diet rendah gula, gulanya bisa dikurangi menjadi 50 gram. Lama memanggang hanya sebagai acuan. 5 menit sebelum waktu memanggang habis lakukan tes tusuk yaitu menusukkan lidi ke dalam kue bila tak ada yang menempel berarti sudah matang. Bila masih lengket di sepanjang lidi lanjutkan mengoven 5-10 menit

Rabu, 17 Oktober 2012

Kenapa Harus Menghindari Margarin?



Margarin adalah salah satu bahan yang banyak dipakai saat membuat cake, bolu, biskuit dan roti. Dulu margarin dianggap lebih baik dari mentega karena berasal dari lemak nabati sehingga dikatakan lebih sehat. Namun kini diketahui bahwa mengkonsumsi margarin secara rutin dan berlebihan meningkatkan kadar kolesterol/trigliserida dalam darah. Resiko yang paling banyak terjadi adalah serangan jantung.
Margarin mengandung banyak lemak trans. Pada dasarnya lemak terdiri dari lemak jenuh dan lemak tidak jenuh. Lemak jenuh banyak terdapat pada lemak hewan dan mentega, sedangkan lemak tidak jenuh banyak terdapat pada minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak wijen, minyak zaitun dan lemak yang berasal dari tumbuhan lainnya. Dalam suhu ruang lemak nabati berbentuk cair dan mempunyai ikatan kimiawi cis yang membuatnya mudah tengik.
Untuk menciptakan produk yang lebih awet minyak nabati tersebut dihidrogenasi. Hidrogenasi adalah penambahan hidrogen yang mengubah minyak menjadi lebih padat (margarin). Sehingga ikatan kimiawi yang semula cis diubah menjadi trans. Hidrogenasi mengubah asam lemak tak jenuh menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak trans yang sulit dicerna oleh lever.
Akibat tak bisa mencerna maka lever membuangnya ke dalam darah, sehingga kadar kolesterol dalam darah naik. Kolesterol yang tinggi lama-lama akan menempel pada dinding pembuluh darah bagian dalam sehingga mempersempit aliran darah. Hal ini akan sangat berbahaya jika penyempitan pembuluh darah terjadi pada pembuluh yang menyuplai oksigen dan makanan ke jantung. Sehingga bisa mengakibatkan jantung kehilangan nutrisi penting dan terjadilah serangan jantung.
Bisa dikatakan margarin sebenarnya jauh lebih berbahaya daripada mentega. Kalau mentega mengandung lemak jenuh yang tinggi, dalam margarin terdapat dua lemak jahat sekaligus yaitu lemak jenuh dan lemak trans.
Dalam membuat kue atau cake, sumber lemak (margarin) digunakan untuk melembutkan adonan dan membentuk struktur yang lembab sehingga tidak “seret” saat dimakan. Juga untuk menghasilkan warna dan aroma yang enak. Namun penggunaan margarin harus dibatasi kalau tak bisa ditinggalkan sama sekali, demi kesehatan jangka panjang.
Sebenarnya selain margarin dan mentega ada sumber lemak lain yang lebih sehat untuk digunakan yaitu minyak kelapa. Minyak kelapa (bukan minyak kelapa sawit) memiliki rasa, aroma, dan warna yang netral atau bening. Sehingga tidak berpengaruh pada warna dan aroma kue.
Dari segi kesehatan minyak kelapa memiliki pengaruh kecil meningkatkan kadar kolesterol darah dibanding margarin, mentega, dan minyak goreng lainnya. Minyak kelapa memang mengandung lemak jenuh cukup tinggi tapi komposisi rantai kimiawinya tergolong menengah sehingga mudah dicerna tubuh. Hanya diperlukan enzim lipase untuk mencerna lemak minyak kelapa tanpa bantuan asam empedu seperti lazimnya pencernaan lemak.
Sebenarnya lemak trans tidak hanya terdapat pada margarin ada banyak sumber lemak trans di sekitar kita seperti makanan yang digoreng, non-dairy krimer, dan shortening. Meski diklaim memiliki asam lemak tak jenuh tinggi, minyak goreng (minyak kelapa sawit) saat dipanaskan akan berubah menjadi sumber lemak trans. Jadi bila tak bisa meninggalkan gorengan sebaiknya tidak menyantapnya terlalu sering.
Meski dalam resep-resep di blog ini tidak menggunakan margarin dan takaran gulanya sudah dikurangi tapi konsumsi berlebihan tidaklah dianjurkan. Sesehat apapun makanan kita kalau dikonsumsi secara berlebihan tidak baik untuk kesehatan. Karena itu kalau tak habis dimakan sekeluarga lebih baik dibagi-bagi ke tetangga, selain bernilai sedekah juga bisa jadi ajang promosi saat tetangga hajatan ada pesanan datang. Happy cooking, Bunda!